Sumber: https://www.freepik.com/free-photo/kids-getting-back-school-together_29014540.htm
Ngomongin soal rencana masa depan anak, pasti banyak banget orang tua di luar sana yang diam-diam nyimpen cita-cita untuk bisa menyekolahkan buah hatinya sampai ke luar negeri suatu hari nanti. Ya, bayangannya memang luar biasa indah; melihat anak kita bisa mandiri hidup di negara orang, fasih berbahasa asing layaknya penutur asli, dan lulus dari universitas ternama dunia dengan bangga. Tapi faktanya, untuk mencapai tahap itu, kita nggak bisa menggunakan sistem “kebut semalam” atau baru heboh melakukan persiapan saat anak sudah menginjak bangku SMA. Perjalanan untuk mencetak individu berwawasan global ini harus dimulai dari titik paling awal dalam fase kehidupannya. Makanya, keputusan memilih institusi pendidikan usia dini menjadi sangat vital. Buat Anda yang berdomisili di ibu kota dan serius ingin mulai mencicil mimpi besar tersebut sejak hari ini, mendaftarkan si kecil ke lingkungan preschool jakarta yang secara konsisten menerapkan standar kurikulum internasional adalah langkah fondasi awal yang sangat strategis. Dari sinilah, benih-benih kemandirian, keberanian bereksplorasi, dan pola pikir terbuka mulai ditanamkan ke dalam alam bawah sadar mereka.
Mempersiapkan karir dan mental anak di kancah internasional itu ibarat menanam bibit pohon jati; Anda sama sekali tidak bisa mengharapkan batangnya langsung tumbuh kokoh dan menjulang tinggi hanya dalam waktu semalam, melainkan membutuhkan siraman air kedisiplinan dan pupuk kesabaran terbaik setiap harinya sejak benih itu disemai. Kalau kita tarik benang merahnya ke masa depan, investasi panjang dan melelahkan ini akan sangat terbayar lunas ketika anak kita mulai memasuki dunia profesional. Menyekolahkan anak di luar negeri itu bukan sekadar urusan prestise, gaya-gayaan, atau buat bahan pamer ke tetangga arisan, lho. Ada manfaat jangka panjang yang sangat riil dan terukur, terutama jika kita melihatnya dari kacamata pengembangan karir profesional mereka kelak. Lulusan universitas luar negeri sering kali memiliki “X-Factor” atau nilai tambah yang membuat resume mereka bersinar di atas tumpukan ribuan pelamar kerja lainnya di meja tim Human Resources (HR) perusahaan multinasional.
Kalau kita mau berbicara pakai data agar tidak terkesan cuma berteori, ada sebuah referensi riset global yang sangat terkenal terkait hal ini. Sebuah studi berskala masif yang dilakukan oleh Erasmus Impact Study yang didanai oleh Komisi Eropa menemukan fakta lapangan yang sangat menarik. Dari survei yang melibatkan puluhan ribu mahasiswa dan perusahaan dari berbagai negara, terungkap bahwa mahasiswa yang memiliki pengalaman belajar atau sekolah di luar negeri memiliki risiko menganggur jangka panjang yang 23% lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah belajar ke luar negeri. Bahkan yang lebih fantastis lagi, 64% perusahaan pemberi kerja (employers) secara terang-terangan mengakui bahwa mereka akan memberikan tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar serta penawaran gaji yang lebih kompetitif kepada lulusan yang punya pengalaman internasional. Kenapa para bos perusahaan ini begitu menyukai mereka? Jawabannya bermuara pada apa yang disebut sebagai transferable skills atau keterampilan lunak yang terbentuk secara alami saat mereka berjuang hidup di negara orang.
Salah satu skill paling mahal yang otomatis terbentuk saat anak bersekolah di luar negeri adalah Adaptability Quotient (AQ) atau kecerdasan beradaptasi. Di dunia kerja modern yang berubahnya secepat kilat ini, perusahaan sudah mulai pelan-pelan menggeser fokus mereka dari sekadar mencari pelamar dengan IQ tinggi atau IPK 4.0, menjadi mencari karyawan yang punya daya adaptasi super tinggi. Nah, anak-anak yang terbiasa hidup di luar negeri ini sudah kenyang banget makan asam garam urusan adaptasi. Bayangkan saja, mereka harus beradaptasi dengan sistem transportasi publik yang rumit, cuaca ekstrem yang bisa bikin depresi ringan, menu makanan yang jauh berbeda dari masakan ibu di rumah, sampai harus menyesuaikan diri dengan tata krama sosial masyarakat lokal yang kadang bertolak belakang dengan budaya Asia. Latihan adaptasi yang keras dan konstan selama bertahun-tahun ini membuat mereka jadi pribadi yang sangat luwes, nggak gampang panik kalau tiba-tiba ada krisis di kantor, dan bisa dengan cepat menyesuaikan diri saat harus dipindahtugaskan ke cabang perusahaan di negara antah berantah sekalipun.
Selain kemampuan adaptasi, manfaat super besar lainnya bagi karir masa depan mereka adalah terbangunnya jejaring global atau global networking. Kita semua pasti setuju dong dengan pepatah yang bilang “Bukan tentang apa yang kamu tahu, tapi siapa yang kamu tahu.” Nah, di kampus-kampus luar negeri, anak kita nggak cuma bakal berteman dengan sesama mahasiswa lokal saja. Mereka akan berada di satu ruangan kelas, mengerjakan tugas kelompok, dan minum kopi di kantin bersama mahasiswa brilian lainnya dari 20, 30, atau bahkan 50 negara yang berbeda. Interaksi sehari-hari inilah yang tanpa disadari membangun sebuah jejaring profesional yang tidak ternilai harganya. Siapa sangka, teman satu asrama dari Jerman yang dulu sering diajak masak bareng ternyata sepuluh tahun kemudian menjadi manajer senior di sebuah perusahaan teknologi raksasa di Eropa yang membuka jalan bagi karir anak Anda? Atau rekan debatnya dari Jepang ternyata menjadi mitra bisnis yang sangat menguntungkan? Lingkaran pertemanan internasional ini adalah aset karir jangka panjang yang efek snowball-nya baru akan terasa belasan tahun kemudian.
Di dunia kerja yang kini sudah tak lagi memiliki sekat batas negara, kemampuan komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication) juga jadi senjata rahasia yang bikin karir melesat tajam. Lulusan luar negeri punya kepekaan yang sangat tinggi terhadap nuansa budaya. Mereka tidak cuma sekadar jago berbahasa Inggris secara grammar atau vocabulary, tapi mereka paham betul “konteks” di balik bahasa tersebut. Mereka tahu bagaimana cara bernegosiasi dengan klien dari Amerika yang suka gaya bicara straight to the point, dan mereka juga paham bagaimana cara menjaga perasaan dan bertutur kata dengan sopan saat harus meeting dengan rekan kerja dari Asia Timur yang lebih mengedepankan harmoni. Anak yang tumbuh di lingkungan multikultural punya toleransi yang sangat luas, tidak mudah tersinggung oleh perbedaan pendapat, dan tahu persis bagaimana menempatkan dirinya agar diterima di berbagai lapisan masyarakat dunia. Perusahaan multinasional rela membayar mahal untuk merekrut “diplomat-diplomat” korporat yang luwes seperti ini.
Selanjutnya, mari kita bahas soal problem solving atau kemampuan memecahkan masalah. Sistem pendidikan di negara-negara maju itu umumnya sangat tidak menyukai metode belajar “suap-suapan” di mana dosen cuma mendikte materi lalu mahasiswa mencatat pasif. Di sana, mahasiswa dituntut untuk punya inisiatif tinggi, berani mempertanyakan teori, dan melakukan riset secara mandiri. Kalau ada tugas esai, mereka tidak bisa cuma mengcopy-paste dari internet; mereka harus membedah kasus, melihat dari berbagai sudut pandang yang kontradiktif, dan menyimpulkan argumen yang orisinal. Cara kerja otak yang terbiasa dengan analisis kritis tingkat tinggi ini akan langsung terbawa saat mereka masuk ke dunia kerja. Saat menghadapi masalah sales yang mandek atau kampanye marketing yang gagal, lulusan dengan pengalaman internasional tidak akan cengeng menunggu instruksi dari atasan. Mereka akan otomatis mengambil inisiatif, mencari data pembanding, menganalisis akar masalah, dan mempresentasikan solusi out of the box yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang lain di kantornya.
Satu lagi manfaat tak kasat mata namun efeknya sangat dahsyat bagi daya juang karir mereka adalah terbentuknya resilience atau ketahanan mental baja. Hidup jauh dari support system utama (ayah, ibu, dan keluarga besar) adalah sebuah ujian mental yang luar biasa berat. Saat mereka sakit demam tinggi di tengah malam, tidak ada ibu yang membuatkan bubur hangat; mereka harus menyeret langkah sendiri pergi ke apotek. Saat mereka kehabisan uang saku di akhir bulan, mereka tidak bisa sekadar merengek minta tambahan; mereka harus memutar otak mencari kerja paruh waktu atau berhemat ekstrem. Kegagalan demi kegagalan yang mereka hadapi sendirian di negeri orang tanpa safety net dari keluarga ini akan mencetak mereka menjadi individu yang pantang menyerah. Di dunia karir profesional, mental baja inilah yang membuat mereka tahan banting menghadapi tekanan pekerjaan, bos yang demanding, atau target perusahaan yang tidak masuk akal. Mereka sudah terbiasa jatuh, membersihkan luka sendiri, dan bangkit berdiri lebih kuat dari sebelumnya.
Melihat betapa krusial dan kompleksnya persiapan ini, rasanya sangat masuk akal jika kita harus menarik mundur garis start-nya jauh hingga ke masa kanak-kanak. Anda tidak bisa tiba-tiba mengirim anak remaja yang pemalu, manja, dan tidak pernah bergaul dengan orang asing ke luar negeri lalu berharap keajaiban terjadi dalam sebulan. Mindset global, kemandirian, dan keberanian mengambil risiko itu harus sudah ditanamkan sejak masa usia emas (golden age). Di sinilah peran pendidikan anak usia dini yang tepat mengambil alih panggung. Anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa berada di lingkungan inklusif, sering mendengar berbagai bahasa asing diucapkan di koridor sekolahnya, dan diajarkan untuk menyelesaikan konflik dengan teman sebayanya secara mandiri, akan memiliki cadangan kepercayaan diri yang jauh lebih besar. Mereka memandang perbedaan bukan sebagai sesuatu yang aneh atau mengancam, melainkan sebagai sesuatu yang seru untuk dipelajari.
Pada akhirnya, memberikan pengalaman pendidikan terbaik, baik itu di dalam maupun hingga ke luar negeri, adalah bentuk investasi kasih sayang terbesar dari orang tua. Semua ini bermuara pada satu tujuan akhir: memastikan anak-anak kita tidak hanya sekadar bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup, tetapi bisa benar-benar “hidup”, berkembang secara maksimal, dan memberikan dampak positif bagi dunia di sekitarnya. Karir yang sukses dan cemerlang di masa depan adalah buah manis dari benih pendidikan karakter yang Anda tanam dengan penuh kesabaran pada hari ini. Jika saat ini Anda sedang berada dalam tahap menyusun master plan atau cetak biru untuk masa depan pendidikan sang buah hati, atau jika Anda masih merasa galau dan butuh teman diskusi yang ahli di bidang persiapan kurikulum global anak usia dini, jangan menunda untuk mencari masukan profesional. Apabila Anda membutuhkan informasi yang komprehensif, butuh penjelasan rinci terkait tahapan kurikulum, atau sekadar ingin berkonsultasi soal pendidikan anak bersama pakarnya, jangan ragu untuk menghubungi Global Sevilla. Kami selalu siap hadir, mendengarkan impian Anda, dan menjadi mitra paling setia dalam merancang fondasi pendidikan paling kokoh demi kesuksesan anak Anda di panggung dunia kelak.
